Kotodama

Blog

Fenomena Web Social Network

Obama Effect semakin menular pada politisi kita di tanah air. Senang sekali melihat mereka ramai-ramai punya blog, punya akun facebook, friendster dan semua tetek bengek social networking itu.

Dalam hati saya berpikir, wah ini hebat ! Mereka sudah mulai punya kesadaran bahwa fenomena Web 2.0 itu punya manfaat luar biasa untuk menjangkau rakyat dan mencari pendukung. Syukurlah. Tapi apa benar begitu?

Skeptis.. skeptis.. skeptis.. maafkan sisi saya yang satu ini. Obama bukan hanya sukses menggaet pendukung dengan teknologi Web 2.0 tapi juga menggalang dukungan dana.. duit.. fulusss dan itu tidak hanya dilakukan dengan sekedar memiliki account facebook, youtube atau blog dan puas dengan banyaknya orang yang sign-up atau meninggalkan komentar. Nampak sekali bahwa Obama punya tim yang benar-benar memahami karakteristik web 2.0, yang lebih dari sekedar puas melihat statistik pengunjung atau pemberi komentar tapi benar-benar memaksimalkannya.

Nah, pertanyaannya, sudahkah politisi kita punya pemahaman yang sama? Jujur saja, sisi skeptis saya mengkhawatirkan bahwa masih ada yang menganggap blog, facebook dan sebagainya itu adalah benda ajaib yang akan mendatangkan dukungan begitu saja. Lebih khawatir lagi kalau ada yang sudah puas dengan melihat statistik semata, tanpa mau membuat semua teknologi itu bekerja maksimal untuk mereka.

Maksimal bagaimana?

social icon

Ada satu kesamaan dari ‘mainan’ baru mereka itu. Rajin di update dengan video, artikel, link dan lain sebagainya. Ini sudah satu kemajuan mengingat bahwa banyak yang sekedar menjadi penanda eksistensi mereka di internet semata. Jumlah pengunjungnya juga gila-gilaan, pertanda mereka memang berhasil menandai eksistensi mereka.

Tapi ada satu kesamaan yang menurut saya kurang mereka lakukan, yaitu interaksi. Salah satu ciri khas social networking adalah terciptanya diskusi. Tapi yang saya amati kebanyakan, mereka tidak pernah.. okelah.. jarang terlibat di sana. Sedikit berbeda dengan Pak Yusril yang lumayan aktif berinteraksi bahkan berusaha menjawab semua pertanyaan dan komentar pengunjung blognya, meskipun saya agak malas membaca blog beliau karena isinya terlalu panjang lebar dan memusingkan hehe

Poin terpenting yang ingin saya sampaikan adalah, wahai para Politisi 2.0 Indonesia (ini sekedar istilah asal yang saya colong dari istilah Web 2.0), pahami benar-benar karakteristik fungsi social networking web 2.0 karena itu akan sangat menguntungkan anda. Jangan dulu puas dengan statistik pengunjung. Coba juga pahami :

1. Cara kerjanya,
2. Bagaimana teknologi itu bisa menciptakan hubungan
3. Apa ancamannya dan sisi negatifnya
4. Bagaimana menggunakannya untuk kepentingan anda

Sebelum saya dibilang sok tahu, lebih baik saya katakan bahwa empat poin di atas saya kutip dari satu buku menarik yang menurut saya pantas dibaca oleh para politisi walaupun buku itu sebenarnya dimaksudkan untuk pengusaha yang ingin memahami fenomena Web 2.0.

Groundswell: Winning In A World Transformed by Social Technologies, itu judul bukunya. Ditulis oleh Charlene Li dan Josh Bernoff. Dari sekian buku tentang Web 2.0 yang pernah saya baca, ini benar-benar yang paling bisa menjelaskan tentang apa itu Web 2.0 dan fungsi social networkingnya, dilengkapi dengan data dan fakta akurat. Maklum, penulisnya orang dari lembaga riset terkenal Forrester Research. Intinya mereka ingin menunjukkan bagaimana kebersamaan di teknologi web 2.0 bisa menciptakan kekuatan dahsyat yang kalau kita tahu cara memanfaatkannya bisa mendatangkan keuntungan.

Lihat saja bagaimana mereka mencoba memetakan teknologi baru ini:

1. People Creating (blog, podcast, youtube dll)
2. People Connecting (social networking seperti facebook friendster dll)
3. People Collaborating (wiki, open source dll)
4. People Reacting To Each Other (forum, milis, review dll)
5. People Organizing Content (tags, categories dll)
6. Accelerating Consumption (rss, widgets dll)

Ini baru pemetaannya. Mereka kemudian mengulas ke enam fungsi itu berdasarkan empat poin yang saya kemukakan sebelumnya tadi, dilengkapi dengan contoh kasus aktual.

Satu contoh menarik misalnya adalah soal poin 4, yaitu tentang bagaimana web 2.0 memungkinkan orang saling bereaksi dan berbagi komentar. Bayangkan, bahwa di luar sana orang ramai membahas posting anda misalnya, atau sebuah fenomena terkait anda. Katakanlah video barunya Fadjroel Rahman di youtube yang banyak dikomentari orang itu, atau tentang Rizal Mallarangeng dan pencalonannya sebagai presiden. Anda bisa melihatnya sebagai ancaman. Tapi bayangkan betapa itu sebenarnya masukan berharga yang mungkin hanya bisa didapat dengan menggelar focus group discussion dengan biaya berjuta-juta, itupun belum tentu ada jaminan akurasinya.

Dalam buku Groundswell misalnya diceritakan bagaimana kekuatan komentar dan diskusi orang di teknologi social networking.

Contoh: April 2007, seorang suplier Dunkin Donuts di Korea Selatan membuat posting di blognya tentang bagaimana Dunkin Donut sangat tidak memperhatikan kebersihan di gerai mereka. Ia memasang gambar alat memasak yang sudah karatan tapi masih dipakai. Dunkin donut berhasil membujuk penyedia layanan blog untuk menghapus posting itu, tapi tidak berhasil menghentikan penyebaran informasinya karena sudah kadung di posting dari blog ke blog lain bahkan sampai menyebar ke koran.

Contoh lain: Tom Dickson, pendiri dari sebuah perusahaan blender rajin mengupload sebuah video di youtube yang di setiap edisi menghadirkan ia tengah memblender macam-macam hal, mulai dari sepatu, stick golf, sapu, handycam, sampai iPod 3G untuk menunjukkan kekuatan blendernya. Cara tidak lazim ini berhasil karena ditonton oleh lebih dari 100 juta orang sejak episode pertamanya muncul sekitar setahun lalu. 100 juta bos! Separuh penduduk Indonesia itu! hehe

Bayangkan kalau saya pindahkan ini ke konteks politik. Bayangkan misalnya soerang Fadjroel dan Rizal yang sudah mulai main video mencontoh cara ini. Ketimbang bikin video yang berbiaya mahal dan menyakiti hati rakyat seperti Rizal, atau video proklamasi ala Fadjroel yang -maaf- dibuat dengan teknologi bagus tapi isinya membosankan, kenapa tidak bikin rangkaian episode-episode video unik tentang diri anda, tentang apa pendapat anda tentang isu aktual atau hal lain yang lebih kreatif dan -ini kata kuncinya: memicu keingintahuan orang untuk buang bandwith dan menonton video anda. Cuma contoh! Tim kreatif kalian pasti lebih kreatif. Namanya juga tim KREATIF kan? hehe Obama misalnya, membuat video ia sedang menyanyi dan itu tidak menjatuhkan harga dirinya, bahkan disukai rakyat! Iya toh?

Poinnya adalah, kekuatan kebersamaan dalam teknologi web 2.0 susah dilawan, tapi bisa di manfaatkan. Ibarat beladiri Jiu Jitsu, Groundswell mengajarkan bagaimana menggunakan kekuatan musuh untuk melawan balik. Maka banyak perusahaan yang kemudian punya blog, dan menjadikannya tempat untuk berinteraksi dan mendapatkan banyak masukan bahkan dukungan. POlitisi pun bisa. Toh mereka sama-sama punya produk untuk ‘dijual’ kan?

Masih banyak poin lain yang diulas di situ. Belilah dan baca kalau anda sempat. Buku-buku lain yang semacam itu juga banyak. Jangan cuma buku how to blog saja yang anda beli hehe.. Itu mah banyak di Gramedia. Tapi lebih dari itu, pahami lah alat yang anda pakai itu, karena ia adalah sebuah alat yang luar biasa hebatnya. Buktinya, Obama tidak hanya sekedar mendapatkan dukungan, tapi juga bisa menggalang dana di situ. Fulus maan.. fulusss.. Rizal mungkin banyak duit, tapi bukan berarti Fadjroel atau Ratna yang ‘gembel’ tidak bisa kan? hehe

Ayo,  mari manfaatkan kekuatan web 2.0 itu agar anda pun tidak sekedar ngetop dan punya banyak pendukung secara statistik, tapi andapun bisa mendapatkan manfaat lain.

Terpopuler

Semua Artikel Merupakan Asli Dari Sumber Yang Terpercaya dan Di terjermahkan kembali ke bahasa indonesia..

Copyright © 2016 KOTODAMA.NET, Powered By Oncom Design

To Top